Selamat Datang di Komunitas Historia Indonesia!

Asep Kambali dan Ajakan Cinta Sejarah

Asep Kambali dan Ajakan Cinta Sejarah

Sewaktu di SMA 1 Sukatani, Bekasi, Asep Kambali mendapatkan kesempatan kuliah di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui program Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK). Ia memang berpredikat siswa teladan, lulus dengan nilai tertinggi. Tapi, peluang itu tak ia ambil. Ia lebih memilih kuliah di Jakarta agar bisa lebih dekat dengan orangtua.

Pilihannya ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) --dulu bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta. Semula ia tertarik masuk ke Jurusan Bahasa Inggris, tapi melihat jurusan ini diminati banyak temannya, niatnya urung. Setelah mengetahui tak ada yang memilih di Jurusan Sejarah, dia mengacungkan tangan, ''Saya mau di sejarah.'' Meski sebenarnya ia tidakmenyenangi pelajaran sejarah.

Di SMA Asep mengambil jurusan IPA (Ilmu Pasti Alam). ''Tahun pertama kuliah, rasanya seperti neraka,'' kata Asep, mengenang pengalaman awal duduk di perguruan tinggi tahun 2000. Sempat berpikir pindah ke Jurusan Bahasa Inggris, tapi urung karena ia tak bersedia kembali mengikuti seleksi dan mengulang di tahun pertama.

Telanjur 'basah', ia memilih sekalian 'tercebur'. Sebagai mantan ketua OSIS di SMA, tidak sukar baginya mengambil peran di organisasi dalam kampus. Tahun kedua kuliah, Asep menjadi pengurus Senat Mahasiswa Jurusan Sejarah UNJ. Di organisasi itu ia menemukan banyak ide. ''Ternyata sejarah itu menarik,'' ucapnya, kemudian.

Selain rajin membaca buku-buku sejarah, melalui lembaga tersebut ia membuat berbagai kegiatan. Tak hanya melibatkan kalangan kampus, kerap kali kegiatan dilakukan dengan mengajak siswa dalam beraktivitas. Tahun 2001, misalnya, Senat UNJ membuat lomba lintas sejarah yang diikuti siswa dari lebih 100 sekolah yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

Kegiatan ini didasari oleh asumsi minimnya apresiasi masyarakat terhadap sejarah, tidak terkecuali para siswa sebagai generasi muda. Didukung oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), kegiatan itu dikemas dalam bentuk permainan dengan menelusuri situs-situs sejarah. Ternyata, apresiasi para siswa besar. ''Mereka sangat tertarik,'' ucapnya.

Sukses dengan kegiatan itu, Depbudpar menyarankan untuk diteruskan. Asep dan kawan-kawan membuat konsep yang lebih luas. Tak hanya bagi para siswa, tapi untuk semua kalangan. Perjalanan waktu mempertemukan banyak orang dari berbagai kalangan dengan minat yang sama. Dua tahun berselang, 2003, Asep menggagas pembentukan Komunitas Historia --Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia. Ini lembaga nonprofit independen di bidang sejarah, budaya, pendidikan, dan pariwisata. 

Komunitas ini lebih banyak berkomunikasi lewat internet. ''Sekarang anggotanya lebih dari 1.600 orang,'' kata Asep. Mereka berasal dari berbagai kalangan: Pelajar, mahasiswa, eksekutif muda, ibu rumah tangga, ekspatriat, akademisi, pemerhati sejarah dan budaya, serta masyarakat luas, tersebar baik di dalam maupun luar negeri.

Hampir tiap bulan komunitas ini membuat kegiatan. Misalnya, menyusuri gudung-gudung VOC di Jakarta, wisata kampung tua, wisata malam Museum Sejarah Jakarta, atau wisata bahari di Kepulauan Seribu. Tiap kegiatan dikemas dalam bentuk rekreatif, edukatif, dan menghibur. ''Kita ingin menumbuhkan masyarakat yang sadar dan peduli sejarah dan budayanya,'' tuturnya.

Kerja di bank
Aktivitas Komunitas Historia terus bergema, membawa nama Asep Kambali dikenal banyak orang. Namanya sering ditulis di koran-koran, wajahnya kerap tampil di layar televisi. Toh, realitas dalam kehidupan punya jalan sendiri yang terkadang tidak seiring dengan minat, bahkan dengan disiplin ilmu sekali pun. Kenyataan hidup menuntut sulung dari tiga bersaudara kelahiran Cianjur, 16 Juni 1980, ini harus bekerja.

Tahun 2005, Asep bekerja di sebuah bank di Jakarta. Saat jam kerja, ia biasa menerima permintaan wawancara wartawan di kantornya. Materi wawancara, tentu saja tidak berkaitan dengan pekerjaan di kantor, melainkan seputar situs-situs sejarah dan aktivitasnya di Komunitas Historia. Tak urung, ia diminta memilih. ''Saya memilih keluar,'' kata ayah seorang anak yang akrab disapa Ujo ini.

Asep berhenti menjadi karyawan bank, Mei 2007. Sarjana Pendidikan Jurusan Sejarah UNJ, 2005, ini lebih senang menjalani aktivitasnya untuk mengenalkan situs-situs sejarah dan kebudayaan peninggalan leluhur bangsa ini daripada menjadi orang gajian. Pilihan itu jelas mengorbankan hal lain: Penghasilan tetap setiap bulan. Tapi, Asep sudah bertekad bulat. Penghasilan bukan hambatan. Dia bilang, ''Rezeki di tangan Allah.''

Ia membuktikan keyakinannya. Asep yakin bisa hidup dari sejarah. Dia mengaku, ada saja jalan yang diberikan Allah untuk mendapatkan rezeki. Ia sempat diminta mengajar berstatus honorer di almamaternya, juga mengajar sejarah di beberapa sekolah. Dia pun menyebut dirinya seperti sinden yang ditanggap orang sana-sini, sebagai pembicara dan nara sumber. ''Walaupun sederhana, tapi buat saya senang,'' tuturnya. ''Alhamdulillah, bisa berjalan, bahkan bisa lebih besar,'' lanjutnya.

Asep memilih sejarah sebagai jalan hidup. Hari-harinya kini lebih banyak diisi dengan aktif di Komunitas Historia. Dari Komunitas ini ia memperoleh banyak teman. Pertemanan --pada ujungnya-- bisa mendatangkan rezeki. Dia pun aktif di Indonesian Heritage Trust, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). Di sini ia menjadi external affair coordinator

Sejarah yang pernah dianggapnya sebagai neraka, kini menjadi sebaliknya. Dia sadar, sulit punya harta berlimpah dari sejarah. Tapi, di balik itu, ia pun sadar, mengabaikan sejarah membuat bangsa ini tidak akan besar. Maka, Asep pun mulai merintis perpustakaan sejarah di rumahnya. Ia kumpulkan berbagai buku tentang sejarah Jakarta. 

''Sejarawan tidak ada yang konglomerat. Kuliah sejarah bisa dibilang bunuh diri. Tapi, tidak ada bangsa yang besar tanpa menghargai sejarahnya,'' kata dia. 

(bur)

Minggu, 11 Nopember 2007